BANGUNAN
WADUK
1.
PENGERTIAN UMUM
Air merupakan sarana pokok bagi
kehidupan baik untuk manusia, hewan, maupun tumbh-tumbuhan.
Bila kita mempelajari sejarah, akn
kita jumpai keterangan bahwa tumbuhnya peradaban manusia dan perkembangan
selanjutnya selalu diawali di daerah lembah-lembah, sungai, terutama
sungai-sungai yang besar.
Manusia-manusia terdahulu, yang hidup
dengan makanan pokok buah-buahan di hutan, berburu binatang dan menangkap ikan
disungai, menggunakan air dari sungai, dari mata air, hanyalah intuk diminum,
untuk keperluan-keperluan lain yang sederhana sekali sifatnya.
Lambat laun peradaban manusia
berkembang, sehingga dikenal cara penghidupan dengan bercocok tanam. Sejak
itulah air merupakan sarana yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Dimusim kemarau air sungai akan banyak berkurang, kadang-kadang sungai menjadi
kering. Air sungai akan bertambah lagi bila datang musim hujan, dan sering kali
terjadi banjir.
Ketika orang-orang menyaksikan bahwa
hujan yang turun tidak selalu sesuai dengan keinginan mereka maka timbullah
pengertian akan perlunya menampung air dimusim hujan, yang selanjutnya dapat
dipergunakan untuk menyiram tanaman mereka dimusim kemarau, agar tanaman-tanaman
itu tidak mati kekeringan.
Cara untuk membuat persediaan air
ini, dibuatlah bending dan bendungan. Dapat diperkirakan bahwa mulai saat
inilah lahirnya sejarah perkembangan teknik bangunan air, persediaan atau
tandon air yang dikelilingi oleh bendungan ini disebut pula waduk.
Sejalan dengan perkembangan peradaban
manusia, maka kemajuan teknik pembuatan konstruksi waduk semakin meningkat.
Pada waktu itu waduk-waduk atau sering dinamai pula empang-empang dibuat dengan
konstruksi dengan urugan.
Kira-kira pada abad 16, barulah
dikenal bendungan dengan konstruksi beton, dewasa ini telah dibuat orang
bendungan (waduk) dengan bermacam-macam bentuk, sebagai hasil dari kemajuan
teknologi yang pesat, tetapi pembuatan bendungan dengan cara urugan masih
banyak dikerjakan orang dan masih pula menduduki tempat yang penting, baik
untuk membuat waduk-waduk yang sederhana maupun untuk waduk-waduk yang besar.
2.
PENGERTIAN TENTANG
BENDUNGAN DAN BENDUNG
2.1.
Bangunan Bendungan
Bangunan bendungan adalah suatu konstruksi bangunan, yang bermaksud untuk
mengempang air (meninggikan permukaan air) sedemikian rupa, sehingga air yang
berada didalam waduk tidak melimpah melalui mercunya. Pada pembuatan bendungan
dengan memilih cara bendungan macam urugan, sering disebut bendungan urugan.

2.2.
Bangunan Bendung
Yang
dimaksud dengan bangunan bendung ialah suatu konstruksi bangunan yang gunanya
untuk mengempang air (meninggikan permukaan air) sedemikian rupa, sehingga air
telah menjadi tinggi permukaannya itu melimpah melewati atas mercunya. Oleh
karena permukaan air melimpah diatas mercunya, maka bangunan bendung ini harus
dibuat dari bahan yang cukup kuat menahan limpahan air tersebut. Pada umumnya
bahan-bahan bangunannya terdiri dari beton atau pasangan batu kali atau batu
gunung. Bangunan bendung semacam ini banyak dijumpai pada sungai-sungai untuk
keperluan irigasi. Air sungai yang tidak dapat lansung dialirkan kesawah kerena
permukaan airnya jauh lebih rendah dari pada permukaan tanah sawah, dengan
jalan pengempang air sungai tersebut, tinggi permukaannya dapat dialirkan guna
keperluan irigasi. Banyak kita jumpai bangunan penyadap pada sungai, untuk
mengalirkan airnya kesawah.
2.3.
Bendungan Untuk Mencukupi
Kekurangan Air
Air hujan sebagai karunia tuhan,
kecuali dapat menghidupi pohon-pohon yang tumbuh di alam semesta, untuk
kebutuhan manusia dan hewan. Di musim kemarau persediaan air untuk keperluan
bercocok tanam jelas akan mengalami kekurangan dibandingkan pada musim hujan.
Untuk menambah kekurangan air hujan,
guna keperluan bercocok tanam, dipakai air dari sungai. Timbul pertanyaan:
bagaimanakah orang dapat mengalirkan air sungai ke lading-ladang dank e
sawah-sawah, karena kita ketahui bahwa permukaan air di sungai itu lebih rendah
daripada permukaan tanah pada sawah-sawah dan ladang-ladang (Gb. 1.3.).
Memang ada kemungkinan bahwa air
sungai berkedudukan lebih tinggi dari pada tanah persawahan, tetapi hal ini hanya akan terjadi diwaktu air hujan
saja. Kadang-kadang meskipun banjir air disungai masih lebih rendah terhadap
permukaan tanah di sawah.
Dalam tempo 20 atau 30 tahun, pada
umumnya sungai-sungai mengalami banjir luar biasa.dalam keadaan demikian air
akan meluap mengalir dan melanda daerah sekitar.
Sudah barang tentu akan mengakibatkan
kerusakan-kerusakan. Juga sawah-sawag yang tergenang dan terendam air ini
mengalami kerusakan-kerusakan pula. Untuk mencegah agar air tidak meluap,
dibuatlah tanggul atau pematang di kedua sisi sungai tersebut.
Satu-satunya jalan agar kita dapat
menggunakan air sungai untuk keperluan mengairi sawah-sawah ialah dengan jalan
mengadakan pembendungan sungai tersebut. Karena pembendungan ini air sungai
menjadi tinggi. Sekarang kalau kita membuat saluran dimulai dari tebing
sungaidekay bendung disebelah hulu maka air yang ada didalam sungai mengalir
melalui saluran tersebut kesawah-sawah dan ladang –ladang.
Bagaimanakah halnya sekarang, apabila
terjadi banjir di sungai itu. Air di dalam sungai akan naik, dan air yang masuk
kedalam saluran akan bertambah banyak, saluran akan meluap, kemudian
menggenangi sawah-sawah dan merusakkan tanaman-tanamanapa saja. Selain itu
kemungkinan besar pula, bahwa bendung tidak dapat mempertahankan tekanan air
yang bertambah besar, kemudian pada akhirnya bangunan bendung akan rontok.
1).
Di tempat pengambilan air disungai, untuk sisaluurkan kesawah tersebut di atas
dibuatkan bangunan pintu air yang disebut pintu pemasukan.
Konstruksi
pintu pemasukan inidibuat dapat mengatur kedudukan di air disungai yang akan
masuk ke daerah persawahan. Apa bila keadaan sungaisedang banjir, pintu pemasukan
di tutup, sedemikian sehingga air tidak melanda daerah persawahan dan
sekitarnya.
2). Untuk
mencegah rusaknya bangunan bendung karena waktu banjir air sungai banyak yang
mengalir melalui bendung, maka bendungnya sendiri dibuat kokoh, sehingga tidak
mengalami kerusakan meskipun banyak air yang melewatinya. Pada umumnya
konnstruksi bendung tediri dari pasangan batu dengan spesi.
Selain itu dasar sungai di
daerah bendung disebelah hilir, yang selalu menerima air dengan loncatannya
dibuat kokoh, yaitu dengan pasangan batu berspesi P.C pula.
Tebing tebing sungai pun
akan mudah tergerus terutama pada waktu sungai banjir, untuk mengatasi
tergerusnya tebing-tebing ini didaerah bendung pada kedua tebing sungai diberi
pasangan batu.
Perlu mendapat perhatian,
karena kapasitas saluran telah ditetapkan,ini berarti kalau air sungai banjir
jangan sampai masuk kedalam saluran mmelebihi daripada yang sudah ditentukan
maka pintu pemasukan harus segera ditutup,kkemudian diatur, sehingga air yang masuk kedalam saluran masih tetap sama, berarti
permukaan air dalam saluran dalam keadaan tetap, tidak menjadi lebih tinggi
sebagaipermukaan air didalam sungai.
Kalau kita perhatikan,
tinggi permukaan sawah-sawah kira-kira sama dengan tinggi tebing tepi sungai,
jadi berarti bahwa bangunan bendung harus dibuat sama tingginya dengan tebing
tepi sungai.
Untuk mencegah agar air
tidak merusak daerah sekitarnya dan kadand-kadang juga mengakibatkan
kecelakaan, maka dibuatlah tanggul pada kedua belah sisi sungaiitu.
Meskipun demikian ada satu
hal yang perlu mendapat perhatian, uaitu cara pemilihan ttempat dimana bangunan
bendung itu didirikan mengakibatkan bangunannya harus besar dan tentu saja
besar pula biayanya.
Jalan lain untuk
menghindari konstruksi bangunan bendung yang besar dan mahal itu, ialah
mengambil tempat bangunan bendung tersebut janganlah dekat dengan daerah
persawahan yang direncanakan akan diairi.
Pada umumnya pemilahan
tempat untuk bangunan bendung ini pada tanah datar. Di daerah pegunungan permukaan
air sungai terletak curam di dalam jurang.
Apa bila penempatan
banginan bendung ditempat yang cukup curamnya, kemungkinan besar bahwa air
banjir tidak akan meluap melalui tebing sungai. Tidak perlu membuat
tanggul-tanggul di kanan dan kiri tebing sungai.
2.4.
Tujuan terhadap bangunan Bendunan
Bangunan
bendungban merupakan didimg dari tandon air yang sangat besar yang dinamakan
waduk. Aspek-aspek terpenting yang mendorong timbulnya pemikiran pembangunan
sebuah bendung pada umumnya adalah:
Sesudah latar belakang dari pemikiran
pembangunan waduk tersebut telah diketahui dengan pasti, barulah dapat dimulai
dengan kegiatan=kegiatan sebagai berikut:
Semakain banyak pengumpulan data dan
informasi lebih baik. Semakain banyak data yang tersedia, berarti akan semakin
menghemat biaya dan waktu sehingga kegiatan survey berjalan lebih cepat. Pada
dasarnya survey dan penyelidikan pendahuluan ini terdiri dari dua bagian yaitu:
1.
Pengumpulan data dasar
Data
yang diperooleh dari data survey pendahuluan ini meruppakan data sebagai
berikut:
a.
Peta Topografi
Peta
ini merupakan data yang sangat pondamentil, sebelum kegiatan-kegiatan survey dan
penyelidikan setersnya dapat direncanakkan, skalanya 1:50.000 atau 1:25.000.
b.
Peta Geologi
Peta-peta
semacan ini di buat dengan skala-skala yang kecil pula, juga diterbitkan oleh
Departemen PUT baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. Dengan dasar
peta-peta tersebut di atas beberapa kondisi geologi dari suatu daerah tertentu
dapat diketahui secara kasar, misalnya menginnai formasi batu-batuan, tentang
proses pembentukannya, umur geologi suatu lapisan, susunan geologinya, dan
lain-lain.
c.
Foto Udara
Dengan
menggunakan foto udara akan sangat mudah mempelajari dan menganalisa tempat
tempat kedudukan calon waduk dan daerah sekitarnya.
Data
yang cukup penting untuk diketahui adalah peta-peta land-use dan
catatan-catatan pembangunan di waktu-waktu lampau.
2.
Pengujian Data yang Terkumpul.
Pada
umumnya data yang terkumpul itu keseluruhannya dapat dipercaya, oleh karena itu
diperlukan pengujian-oengujian dengan metode atau cara-cara tertentu, antara
lain sebagai berikut:
Jelasnya kegiatan-kegiatan yang di
lakukan di atas adalah merupakan survey dan penyelidikan-penyelidikan terhadap
data yang sudah tersedia.
Kegiatan survey ini dilakukan selain di
daerah tempat kedudukan calon bendungan, juga pada daerah-daerah disekitar
tempat kedudukan calon bendungan tersebut yang diperkirakan akan mendapat
pengaruh langsung baik pada saat pelaksanaan survey, maupun pada waktu
pelaksanaan pembangunannya.
Dalam kegiatan survey penyelidikan
daerah tempat kedudukan calon bendungan ini akan membutuhkan:
1.
Perlengkapan dan peralatan survey dan penyelidikan
lapangan. Perlengkapan dan perlenggkapan untuk melakukan survey:
a.
Kesimpulan-kesimpulan dan ringkasan dari hasil survey dan
pengumpulan data-data terdahulu.
b.
Palu untuk survey geolgi, kaca pembesar dan lain-lain.
c.
Pita ukur, waterpas tangan, meteran dan lain-lain.
d.
Kantong plastik
e.
Buku catatan dan pensil.
f.
Photo dan teropong.
g.
Lampu baterai.
2.
Kegiatan survey dan penyalidikan lapangan.
Suurvey
dan kegiatan lapangan umumnya meliputu kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a.
Pemetaan geologi
permukaan
Pekerjaan
ini untuk mendapatkan gambaran yang lebih seksama terhadap jenis-jenis batuan yang
menbentuk permukaan tanah dan mencoba memperkirakan daerah penyebaran serta
ketebalannya, sifat-sifat fisik maupun mekanisnya.
b.
Survey untuk
bahan bendungan.
Dengan
menggunakan peta topografi dan geologis, maka dengan mudah dapat diketahui
jenis batuan asal yang terdapat disekitar daerah tempat kedudukan calon
bendungan.
3 MACAM-MACAM BANGUNAN WADUK
3.1 waduk lapangan
Waduk lapangan adalah suatu waduk
yang menghimpun air di waktu malam untuk kemudian diberikan pada tanaman di
siang hari.
Macam-macan
waduk lapangan:
1.
Waduk lapangan tersier: untuk mengairi petak tersier.
2.
Waduk lapangan sekunder: unutk mengairi petak sekunder.
Pertimbangan
bagi perencanaan
1.
Ukuran waduk ditentukan oleh luas areal yang akan diari
dan debit musim kemarau
2.
Kapasitas
3.
Letak dasar wadu harus lebih tinggi daripada permukaan
air di saluran tersier.
4.
Letak waduk praktis di atas muka medan.
5.
Permukaan air di saluran sadap harus lebih tinggi dari
pada prmukaan air di waduk lapangan.
6.
Bila perlu diding dan dasar wadu dapat diberi llapisan
kedap air dari selapis pasangan batu atau pelat beton.
3.2 waduk serbaguna
Wadduk
serbaguna merupakan bangunan yang besar, bahkan ada yang merupakan bangunan
raksasa.
Kegunaan
waduk ini adalah: untuk kebutuhab air dipabrik, untukmkeperluan industri, dan
sebagai pembangkit tenaga listrik.
Macan-macan
Bendungan
1.
Bendungan homogen
2.
Bendungan zonal
Bendungan
ini di bagi empat yaitu:
a.
Bendungan tirai
b.
Bendungan inti miring.
c.
Bendungan inti vertikal.
3.
Bendungan sekat
3.3 karakteristik
Bendungan Urugan.
Dibandingkan
dengan bendungan lainnya, bendungan urugan mempunyai keistimewaan sebagai
berikut:
1.
pembbangunannya dapat dilaksanakan pada kondisi geologi
dan geografi yang mana pun
2.
bahan-bahan untuk tubuh bangunan mudah didapatkan, yaitu
dapat dipakai batu-batu yang trdapat disekitar bendungan yang akan di bangun.
Adapunkelemahan bendungan urugan ini
ialah tidak dapat menahan air yang melimpah melalui atas mercu bendungannya.
Beberapa
karakteristik lagi yang perlu diketahui dari bendungan urugan adalah:
1.
karena lerengnya cukup landai, naka bendungan urugan
mempunyai alas yang luas, sehingga bbeban yang harus didukung olleh pondasi
oleh-oleh setiap satuan luas pada umumnya adalah kecil.
2.
Bendungan urugan dapat dibangun dengan mempergunakan bahan-bahan
(batu-batu) yang terdapat didekat atau disekitar calon bendungan yang akan
didirikan.
3.
Alat-alat mekanis untuk mempercepat pelaksanaan bangunan
bendungan urugan, saat ini ntelah banyak diproduksi, sehingga dapat dipilih
peralatan yang paling cocok.
4.
Adapun hhal-hal yang
perlu mendapat perhatian, karena tubuh bendungan yang terdiri dari
timbunan tanah atau timbunan batu yang berikatan lepas, maka selalu ada bahaya
jebolnya bangunan. Bahaya jebolnya bendunan disebabkan oleh:
a.
Longsoran yang terjadi baik pada lereng disebelah hulu,
maupun di lereng disebelah hilir dari tubuh bendungan.
b.
Terjadinya erosi dalam, disebabkan oleh gaya-gaya yang
timbul dalam aliran filtrasi yang terjadi di dalam tubuh bendungan.
c.
Suatu konsktruksi yang kaku tidak di inginkan di dalam
tubuh bendungan karena konskruksi demikian tidak dapat mengikuti gerakan
konsolidasi dari tubuh bendungan.
d.
Proses pembangunannya sangat dipengaruhi oleh keadaan
iklim.
3.4 Perencanaan
Permulaan Bangunan Bendungan
Sebelum bangunan
urugan di laksanakan, terlebih dahulu harus diadakan suurvey. Apabila survey
dilakukan kurang teliti dan kurang mendalam, dapat terjadi bahwa pilihan yang
semula jatuh pada bendungan beton, dapat berubah menjjadi bendungan urugan,
sehingga hasil survey semula, terpaksa harus di tinlau kembali.
Contohh
kasus-kasus tersebut di atas mengakibatkan terlambatnya pelaksanaan
pembangunannya, bahkan kadang-kkadang terpaksa harus di tinggalkan begitu saja,
karrena timbulnya tambahan-tambahan pembiayaan yang melampaui persyaratan
ekonomis.
Dari hasil-hasil
teknis tersebut, akan dapat ditentukan dengan sebaik-baiknya hal-hal sebagai
berikut:
·
Kedudukan bendungan yang paling baik.
·
Macam-macam bendungan yang paling cocok.
·
Cara atau metode pelaksanaan pembangunan yang paling
efekrif.
Berdasarkan
data-dat yang benar dan lengkap, disertai dengan analisa-analisa yang cermat,
denga mengadakan percobaan-percobaan dan perbandingan-perbandingan secara
teliti dari berbagai alternatif berulang-ulang baru dapat diharapkan yang tepat
dari ketiga hal-hal pokok tersebut diatas.
Beberapa ketentuan-ketentuan
penting yang perlu ditinjau dan dipelajari untuk dapat merealisir pembangunan
suatu bendungan adalah:
1.
Topografi
Peninjauan yang
hanya didasarkan pada kondisi topografi, ppada sungai dengan alur yang sempit
tetapi dalam, maka bendungan beton akan lebih menguntungkan.
Sering pula
dijumpai bendungan dibuat dengan konstruksi kombinasi, yaitu macam urugan
dikombinasikan dengan beton. Meskipun demikiankemampuan untuk segera dapat
menyesuaikan dari bendung urugan jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan bendungan
beton, maka kemungkinan terpiliihnya bendungan urugan akan lebih besar dari pada bendungan beton.
Dengan pemilihan
macam bendung urugan yang akan di bangun pada alur yang sempit tetapi dalam,
maka harus diperhatikan hal-al dibawah ini:
a.
Diusahakan agar pemilihan bahan untuk tubuh gedung sedemikian rupa, sehingga potongan melintangnya
paling sederhana.
b.
Kemungkinan retaknya pada tubuh bendungan akan terjadi
akibat perbedaan angka keteguhan (konsolidasi) yang besar antara bagian tubuh
bendungan yang terlatak di atas tebing sungai.
c.
Pada umumnya kebocoran-kebocoran yang paling mudah
terjadi adalah didaerah kontak antara timbunan yang kedap air (inti, tirai, dan
lain-lain) dan tebing sungai.
d.
Pada keadaan topografi, dimana tebing sungainya terlampau
curam, sehingga menyukarkan pembuatan bangunan-bangunanpelengkap untuk
bendungan.
e.
Pada kondisi topografi seperti di atas stabilitas
bendungan akan meningkat, karena tebimg sungai dapat juga bekerja sebagai
penyangga, baik untuk beban vertikal mauupun beban horizontal.
2.
Geologi Teknik
Untuk keperluan
penelitian geologi teknik ini, tidak hanya di daerah sekitar tempat kedudukan
calon bendungan yang akan dibangun, melainkan harus diadaka pula penelitian di
daerah calon waduk dan sekitarnya untuk mengetahui adanya celah-celah yang bisa
mengakibatkan kebicoran, atau kemungkinan adanya adanya daerah-daerah yang
longsor.
Dengan masuknya
longsoran-longsoran tersebut kedalam waduk akan memyebabkan penuhnya waduk
terisi endapan dalam waktu yang tidak lama, yang berakibat diikuuti keluarnya
air di dalam waduk secara mendadak, sehingga mengakibatkan adanya luapan-luapan
yang membahayakan daerah-daerah di sebelah hilir waduk.
Penting pula
diperhatikan dalam mengerjakan geologi teknik untuk menyelidiki adanya
patahan-patahan, retakan-retakan, bahkan gua-gua di bawah tanah, karena kurang
perhatian dalam melaksanakan penelitian hal-hal tersebut di atas, akan
mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang timbul disekitar waduk.
3.
Pondasi
Pada dasarnya
bendungan urugan di atas hampir semua keadaan topografi dan geologi yang di
jumpai, sedanggkan bedngan benduungan beton hanya mungkin dibangun di atas
pondasi yang kokoh.
Di atas lapisan
dari batu-batu yang lemah, misalnya batuan keras dan lain-lain konstruksi
bendungan urugan akan lebih aman di bandingkan dengan konstruksi bendungan
beton. Apabila pondasi terdiri dari tanah yang lulus air atau tanah yang daya
dukungnya rendah, di perlukan perbaikan tanah dengan sementasi yang umumnya
membutuhkan biaya yang besar.
Hasil-hasil
survey secara visual saja tidak menggambarkan kondisi geologi yang sebenarnya
secara pasti . oleh sebab itu di dalam pembuatan rencana teknisnya diperlukan angka-angka keamanan
yang cukup untuk menghindarkan hal-hal yang tak terduga yang mungkin saja
terjadi, baik dalam saat-saat pelaksanaan pembangunan bendungan, maupum pada
masa-masa pembangunan waduk.
Apabila dari
hasil perhitungan dan analisa menghasilkan angka pembiayaan yang sabgat tinggi
untuk keperluan perbaikan pondasinya, maka di anjurkan sebaiknya agar rencana
tempat kedudukan bendung maupum dimensi dari bendung perlu ditelaah kembali
dengan alternatif yang lain.
4.
Bahan Bendungan
Dasar pemilihan
jenis bendungan akan jatuh pada hasil perhitungan pembiayaan yang paling
ekonomis, dimana biaya tersebut akan tergantung pada:
a.
Kualitas (mutu) dan kwantitas bahan (persediaan yang
cukup banyak), yang terdapat disekitar lokasi calon bendungan akan dibangun.
b.
Jarak pengangkutan dari daerah pengambilan (daerah
bahan-bahan didapatkan) ke tempat penimbunan pada calon tubuh bendungan.
Lokasi
bahan-bahan yang terdapat di sekitar daerah calon waduk merupakan perhatian utama
, sebelum mempertimbangkan adanya bahan-bahan yang terdapat di daerah lain.
Selain perlu di
teliti pula kemungkinan cara-cara penggalian (pengambilan) bahan yang paling efisien,
dan juga cara pengangkutan yang dapat dikerjakan dengan mudah tempat pengambilan
ke tempat-tempat penimbunannya pada calon tubuh bendungan tersebut.
Seperti telah
disebutkan di atas bahwa hampir semua batu-batuan, seperti tanah, pasir kerikil
dan batu dapat digunakan untuk konstruksi tubuh bendungabn urugan, maka akan
banyak pemilihan yang harus dipertimbangkan dan dibandingkan sebelum mendapat
alternatif suatu konstruksi tubuh bandungan yang paling ekonomis.
Pada umumnya
terjadi kemungkinan perubahan-perubahan volume timbunan tubuh bendungan. Untuk
mengatasi hal tersebut, maka persediaan bahan-bahan sebaiknya diambil dua kali
lebih banyak daripada perhitungan volume pada rencana tekniknya.
Dapat mudah
dimengerti, apabila pengambilan bahan-bahan berada di tempat yang dekat dengan
cslon bendungan, akan lebih memudahkan pekerjaan dan juga lebih menguntungkan.
Adda kalanya
bahan-bahan yang diperoleh tidak langsung dipakai, atau pada saat penggalian,
pengangkutan, penimbunan, pemadatan, maupun masa eksploitasinya, bahan-bahan
tersebut akan berubah karakteristik mekanis dan kimiawi, maka diperlukan adanya
usaha-usah oeyesuaian seperlunya, atau pencegahan-pencegahan agar dapat
dihindarkan perubahan-perrubahan bahan itu



