Jumat, 22 September 2017

BANGUNAN WADUK

BANGUNAN WADUK
1.      PENGERTIAN UMUM
Air merupakan sarana pokok bagi kehidupan baik untuk manusia, hewan, maupun tumbh-tumbuhan.
Bila kita mempelajari sejarah, akn kita jumpai keterangan bahwa tumbuhnya peradaban manusia dan perkembangan selanjutnya selalu diawali di daerah lembah-lembah, sungai, terutama sungai-sungai yang besar.
Manusia-manusia terdahulu, yang hidup dengan makanan pokok buah-buahan di hutan, berburu binatang dan menangkap ikan disungai, menggunakan air dari sungai, dari mata air, hanyalah intuk diminum, untuk keperluan-keperluan lain yang sederhana sekali sifatnya.
Lambat laun peradaban manusia berkembang, sehingga dikenal cara penghidupan dengan bercocok tanam. Sejak itulah air merupakan sarana yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dimusim kemarau air sungai akan banyak berkurang, kadang-kadang sungai menjadi kering. Air sungai akan bertambah lagi bila datang musim hujan, dan sering kali terjadi banjir.
Ketika orang-orang menyaksikan bahwa hujan yang turun tidak selalu sesuai dengan keinginan mereka maka timbullah pengertian akan perlunya menampung air dimusim hujan, yang selanjutnya dapat dipergunakan untuk menyiram tanaman mereka dimusim kemarau, agar tanaman-tanaman itu tidak mati kekeringan.
Cara untuk membuat persediaan air ini, dibuatlah bending dan bendungan. Dapat diperkirakan bahwa mulai saat inilah lahirnya sejarah perkembangan teknik bangunan air, persediaan atau tandon air yang dikelilingi oleh bendungan ini disebut pula waduk.
Sejalan dengan perkembangan peradaban manusia, maka kemajuan teknik pembuatan konstruksi waduk semakin meningkat. Pada waktu itu waduk-waduk atau sering dinamai pula empang-empang dibuat dengan konstruksi dengan urugan.
Kira-kira pada abad 16, barulah dikenal bendungan dengan konstruksi beton, dewasa ini telah dibuat orang bendungan (waduk) dengan bermacam-macam bentuk, sebagai hasil dari kemajuan teknologi yang pesat, tetapi pembuatan bendungan dengan cara urugan masih banyak dikerjakan orang dan masih pula menduduki tempat yang penting, baik untuk membuat waduk-waduk yang sederhana maupun untuk waduk-waduk yang besar.

2.      PENGERTIAN TENTANG BENDUNGAN DAN BENDUNG

2.1.            Bangunan Bendungan
Bangunan bendungan adalah suatu konstruksi bangunan, yang bermaksud untuk mengempang air (meninggikan permukaan air) sedemikian rupa, sehingga air yang berada didalam waduk tidak melimpah melalui mercunya. Pada pembuatan bendungan dengan memilih cara bendungan macam urugan, sering disebut bendungan urugan.


2.2.            Bangunan Bendung
Yang dimaksud dengan bangunan bendung ialah suatu konstruksi bangunan yang gunanya untuk mengempang air (meninggikan permukaan air) sedemikian rupa, sehingga air telah menjadi tinggi permukaannya itu melimpah melewati atas mercunya. Oleh karena permukaan air melimpah diatas mercunya, maka bangunan bendung ini harus dibuat dari bahan yang cukup kuat menahan limpahan air tersebut. Pada umumnya bahan-bahan bangunannya terdiri dari beton atau pasangan batu kali atau batu gunung. Bangunan bendung semacam ini banyak dijumpai pada sungai-sungai untuk keperluan irigasi. Air sungai yang tidak dapat lansung dialirkan kesawah kerena permukaan airnya jauh lebih rendah dari pada permukaan tanah sawah, dengan jalan pengempang air sungai tersebut, tinggi permukaannya dapat dialirkan guna keperluan irigasi. Banyak kita jumpai bangunan penyadap pada sungai, untuk mengalirkan airnya kesawah.


2.3.            Bendungan Untuk Mencukupi Kekurangan Air
Air hujan sebagai karunia tuhan, kecuali dapat menghidupi pohon-pohon yang tumbuh di alam semesta, untuk kebutuhan manusia dan hewan. Di musim kemarau persediaan air untuk keperluan bercocok tanam jelas akan mengalami kekurangan dibandingkan pada musim hujan.
Untuk menambah kekurangan air hujan, guna keperluan bercocok tanam, dipakai air dari sungai. Timbul pertanyaan: bagaimanakah orang dapat mengalirkan air sungai ke lading-ladang dank e sawah-sawah, karena kita ketahui bahwa permukaan air di sungai itu lebih rendah daripada permukaan tanah pada sawah-sawah dan ladang-ladang (Gb. 1.3.).
Memang ada kemungkinan bahwa air sungai berkedudukan lebih tinggi dari pada tanah persawahan, tetapi  hal ini hanya akan terjadi diwaktu air hujan saja. Kadang-kadang meskipun banjir air disungai masih lebih rendah terhadap permukaan tanah di sawah.
Dalam tempo 20 atau 30 tahun, pada umumnya sungai-sungai mengalami banjir luar biasa.dalam keadaan demikian air akan meluap mengalir dan melanda daerah sekitar.
Sudah barang tentu akan mengakibatkan kerusakan-kerusakan. Juga sawah-sawag yang tergenang dan terendam air ini mengalami kerusakan-kerusakan pula. Untuk mencegah agar air tidak meluap, dibuatlah tanggul atau pematang di kedua sisi sungai tersebut.
Satu-satunya jalan agar kita dapat menggunakan air sungai untuk keperluan mengairi sawah-sawah ialah dengan jalan mengadakan pembendungan sungai tersebut. Karena pembendungan ini air sungai menjadi tinggi. Sekarang kalau kita membuat saluran dimulai dari tebing sungaidekay bendung disebelah hulu maka air yang ada didalam sungai mengalir melalui saluran tersebut kesawah-sawah dan ladang –ladang.
Bagaimanakah halnya sekarang, apabila terjadi banjir di sungai itu. Air di dalam sungai akan naik, dan air yang masuk kedalam saluran akan bertambah banyak, saluran akan meluap, kemudian menggenangi sawah-sawah dan merusakkan tanaman-tanamanapa saja. Selain itu kemungkinan besar pula, bahwa bendung tidak dapat mempertahankan tekanan air yang bertambah besar, kemudian pada akhirnya bangunan bendung akan rontok.
1). Di tempat pengambilan air disungai, untuk sisaluurkan kesawah tersebut di atas dibuatkan bangunan pintu air yang disebut pintu pemasukan.
Konstruksi pintu pemasukan inidibuat dapat mengatur kedudukan di air disungai yang akan masuk ke daerah persawahan. Apa bila keadaan sungaisedang banjir, pintu pemasukan di tutup, sedemikian sehingga air tidak melanda daerah persawahan dan sekitarnya.

2). Untuk mencegah rusaknya bangunan bendung karena waktu banjir air sungai banyak yang mengalir melalui bendung, maka bendungnya sendiri dibuat kokoh, sehingga tidak mengalami kerusakan meskipun banyak air yang melewatinya. Pada umumnya konnstruksi bendung tediri dari pasangan batu dengan spesi.
            Selain itu dasar sungai di daerah bendung disebelah hilir, yang selalu menerima air dengan loncatannya dibuat kokoh, yaitu dengan pasangan batu berspesi P.C pula.
            Tebing tebing sungai pun akan mudah tergerus terutama pada waktu sungai banjir, untuk mengatasi tergerusnya tebing-tebing ini didaerah bendung pada kedua tebing sungai diberi pasangan batu.
            Perlu mendapat perhatian, karena kapasitas saluran telah ditetapkan,ini berarti kalau air sungai banjir jangan sampai masuk kedalam saluran mmelebihi daripada yang sudah ditentukan maka pintu pemasukan harus segera ditutup,kkemudian diatur, sehingga air  yang masuk kedalam saluran masih tetap sama, berarti permukaan air dalam saluran dalam keadaan tetap, tidak menjadi lebih tinggi sebagaipermukaan air didalam sungai.
            Kalau kita perhatikan, tinggi permukaan sawah-sawah kira-kira sama dengan tinggi tebing tepi sungai, jadi berarti bahwa bangunan bendung harus dibuat sama tingginya dengan tebing tepi sungai.
            Untuk mencegah agar air tidak merusak daerah sekitarnya dan kadand-kadang juga mengakibatkan kecelakaan, maka dibuatlah tanggul pada kedua belah sisi sungaiitu.
            Meskipun demikian ada satu hal yang perlu mendapat perhatian, uaitu cara pemilihan ttempat dimana bangunan bendung itu didirikan mengakibatkan bangunannya harus besar dan tentu saja besar pula biayanya.
            Jalan lain untuk menghindari konstruksi bangunan bendung yang besar dan mahal itu, ialah mengambil tempat bangunan bendung tersebut janganlah dekat dengan daerah persawahan yang direncanakan akan diairi.
            Pada umumnya pemilahan tempat untuk bangunan bendung ini pada tanah datar. Di daerah pegunungan permukaan air sungai terletak curam di dalam jurang.
            Apa bila penempatan banginan bendung ditempat yang cukup curamnya, kemungkinan besar bahwa air banjir tidak akan meluap melalui tebing sungai. Tidak perlu membuat tanggul-tanggul di kanan dan kiri tebing sungai.


2.4.            Tujuan terhadap bangunan Bendunan
Bangunan bendungban merupakan didimg dari tandon air yang sangat besar yang dinamakan waduk. Aspek-aspek terpenting yang mendorong timbulnya pemikiran pembangunan sebuah bendung pada umumnya adalah:
*      Pentingnya pengadaan waduk tersebut ditinjau dari segi-segi ekonomis maupun sosial.
*      Fungsi pokok yang akan dibebankan pada calon bangunan waduk.
*      Perkiraan kemampuan teknis dari calom waduk.
Sesudah latar belakang dari pemikiran pembangunan waduk tersebut telah diketahui dengan pasti, barulah dapat dimulai dengan kegiatan=kegiatan sebagai berikut:
*      Pengumpulan data yang telah tersedia, yang ada hubungannya dengan pembangunan waduk tersebut.
*      Pengumpulan keterangan, baik tertulis maupun  lisan disekitar daerah calon bangunan waduk, maupun di daerah-daerah dimana pengaruh pengadaan bangunan waduk diperkirakanakan dapat terasa, baik yang barsifat menguntungkan maupun yang merugikan.
Semakain banyak pengumpulan data dan informasi lebih baik. Semakain banyak data yang tersedia, berarti akan semakin menghemat biaya dan waktu sehingga kegiatan survey berjalan lebih cepat. Pada dasarnya survey dan penyelidikan pendahuluan ini terdiri dari dua bagian yaitu:
*      Pengumpulan data dasar.
*      Pengujian data yang telah terkumpul.

1.      Pengumpulan data dasar
Data yang diperooleh dari data survey pendahuluan ini meruppakan data sebagai berikut:
a.      Peta Topografi
Peta ini merupakan data yang sangat pondamentil, sebelum kegiatan-kegiatan survey dan penyelidikan setersnya dapat direncanakkan, skalanya 1:50.000 atau 1:25.000.
b.      Peta Geologi
Peta-peta semacan ini di buat dengan skala-skala yang kecil pula, juga diterbitkan oleh Departemen PUT baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. Dengan dasar peta-peta tersebut di atas beberapa kondisi geologi dari suatu daerah tertentu dapat diketahui secara kasar, misalnya menginnai formasi batu-batuan, tentang proses pembentukannya, umur geologi suatu lapisan, susunan geologinya, dan lain-lain.
c.       Foto Udara
Dengan menggunakan foto udara akan sangat mudah mempelajari dan menganalisa tempat tempat kedudukan calon waduk dan daerah sekitarnya.

Data yang cukup penting untuk diketahui adalah peta-peta land-use dan catatan-catatan pembangunan di waktu-waktu lampau.
2.      Pengujian Data yang Terkumpul.
Pada umumnya data yang terkumpul itu keseluruhannya dapat dipercaya, oleh karena itu diperlukan pengujian-oengujian dengan metode atau cara-cara tertentu, antara lain sebagai berikut:
*      Data yang sejenis yang telah diperoleh dibandingkan, kemudian diusahakan agar dipilih data yang paling masuk akal (logis).
*      Agar memperolah kebenaran data yang terkumpul, di adakan pemeriksaan setempat.
*      Mencari-persamaan –persamaan yang logis dan membandingkan antaradua jenis data yang berbeda.
*      Daerah-daerah yang rendah biasanya terdiri dari batu-batuan aluvial.
*      Daerah-daerah yang tinggi biasanya terdiri dari batu-batuan diluvial.
*      Daerah-daerah gunumg  merapi biasanya terdiri dari batu-batuan asal gunung berapi.
*      Daerah-daerah perbukitan, terdiri dari batu diluvial, granit, dan lain-lain.
*      Daerah-daerah pegunungan, biasanya terdiri dari batu-batuan metamorf, batu-batuab beku, dan lain-lain.
Jelasnya kegiatan-kegiatan yang di lakukan di atas adalah merupakan survey dan penyelidikan-penyelidikan terhadap data yang sudah tersedia.
Kegiatan survey ini dilakukan selain di daerah tempat kedudukan calon bendungan, juga pada daerah-daerah disekitar tempat kedudukan calon bendungan tersebut yang diperkirakan akan mendapat pengaruh langsung baik pada saat pelaksanaan survey, maupun pada waktu pelaksanaan pembangunannya.
Dalam kegiatan survey penyelidikan daerah tempat kedudukan calon bendungan ini akan membutuhkan:
1.      Perlengkapan dan peralatan survey dan penyelidikan lapangan. Perlengkapan dan perlenggkapan untuk melakukan survey:
a.      Kesimpulan-kesimpulan dan ringkasan dari hasil survey dan pengumpulan data-data terdahulu.
b.      Palu untuk survey geolgi, kaca pembesar dan lain-lain.
c.       Pita ukur, waterpas tangan, meteran dan lain-lain.
d.      Kantong plastik
e.      Buku catatan dan pensil.
f.        Photo dan teropong.
g.      Lampu baterai.
2.      Kegiatan survey dan penyalidikan lapangan.
Suurvey dan kegiatan lapangan umumnya meliputu kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a.      Pemetaan geologi permukaan
Pekerjaan ini untuk mendapatkan gambaran yang lebih seksama terhadap jenis-jenis batuan yang menbentuk permukaan tanah dan mencoba memperkirakan daerah penyebaran serta ketebalannya, sifat-sifat fisik maupun mekanisnya.
b.      Survey untuk bahan bendungan.
Dengan menggunakan peta topografi dan geologis, maka dengan mudah dapat diketahui jenis batuan asal yang terdapat disekitar daerah tempat kedudukan calon bendungan.




3 MACAM-MACAM BANGUNAN WADUK


3.1 waduk lapangan
            Waduk lapangan adalah suatu waduk yang menghimpun air di waktu malam untuk kemudian diberikan pada tanaman di siang hari.

Macam-macan waduk lapangan:
1.      Waduk lapangan tersier: untuk mengairi petak tersier.
2.      Waduk lapangan sekunder: unutk mengairi petak sekunder.


Pertimbangan bagi perencanaan
1.      Ukuran waduk ditentukan oleh luas areal yang akan diari dan debit musim kemarau
2.      Kapasitas
3.      Letak dasar wadu harus lebih tinggi daripada permukaan air di saluran tersier.
4.      Letak waduk praktis di atas muka medan.
5.      Permukaan air di saluran sadap harus lebih tinggi dari pada prmukaan air di waduk lapangan.
6.      Bila perlu diding dan dasar wadu dapat diberi llapisan kedap air dari selapis pasangan batu atau pelat beton.

3.2 waduk serbaguna
            Wadduk serbaguna merupakan bangunan yang besar, bahkan ada yang merupakan bangunan raksasa.
            Kegunaan waduk ini adalah: untuk kebutuhab air dipabrik, untukmkeperluan industri, dan sebagai pembangkit tenaga listrik.
            Macan-macan Bendungan
1.      Bendungan homogen
2.      Bendungan zonal
Bendungan ini di bagi empat yaitu:
a.      Bendungan tirai
b.      Bendungan inti miring.
c.       Bendungan inti vertikal.
3.      Bendungan sekat


3.3  karakteristik Bendungan Urugan.
Dibandingkan dengan bendungan lainnya, bendungan urugan mempunyai keistimewaan sebagai berikut:
1.      pembbangunannya dapat dilaksanakan pada kondisi geologi dan geografi yang mana pun
2.      bahan-bahan untuk tubuh bangunan mudah didapatkan, yaitu dapat dipakai batu-batu yang trdapat disekitar bendungan yang akan di bangun.
Adapunkelemahan bendungan urugan ini ialah tidak dapat menahan air yang melimpah melalui atas mercu bendungannya.
            Beberapa karakteristik lagi yang perlu diketahui dari bendungan urugan adalah:
1.      karena lerengnya cukup landai, naka bendungan urugan mempunyai alas yang luas, sehingga bbeban yang harus didukung olleh pondasi oleh-oleh setiap satuan luas pada umumnya adalah kecil.
2.      Bendungan urugan dapat dibangun dengan mempergunakan bahan-bahan (batu-batu) yang terdapat didekat atau disekitar calon bendungan yang akan didirikan.
3.      Alat-alat mekanis untuk mempercepat pelaksanaan bangunan bendungan urugan, saat ini ntelah banyak diproduksi, sehingga dapat dipilih peralatan yang paling cocok.
4.      Adapun hhal-hal yang  perlu mendapat perhatian, karena tubuh bendungan yang terdiri dari timbunan tanah atau timbunan batu yang berikatan lepas, maka selalu ada bahaya jebolnya bangunan. Bahaya jebolnya bendunan disebabkan oleh:
a.      Longsoran yang terjadi baik pada lereng disebelah hulu, maupun di lereng disebelah hilir dari tubuh bendungan.
b.      Terjadinya erosi dalam, disebabkan oleh gaya-gaya yang timbul dalam aliran filtrasi yang terjadi di dalam tubuh bendungan.
c.       Suatu konsktruksi yang kaku tidak di inginkan di dalam tubuh bendungan karena konskruksi demikian tidak dapat mengikuti gerakan konsolidasi dari tubuh bendungan.
d.      Proses pembangunannya sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim.

3.4  Perencanaan Permulaan Bangunan Bendungan
Sebelum bangunan urugan di laksanakan, terlebih dahulu harus diadakan suurvey. Apabila survey dilakukan kurang teliti dan kurang mendalam, dapat terjadi bahwa pilihan yang semula jatuh pada bendungan beton, dapat berubah menjjadi bendungan urugan, sehingga hasil survey semula, terpaksa harus di tinlau kembali.
Contohh kasus-kasus tersebut di atas mengakibatkan terlambatnya pelaksanaan pembangunannya, bahkan kadang-kkadang terpaksa harus di tinggalkan begitu saja, karrena timbulnya tambahan-tambahan pembiayaan yang melampaui persyaratan ekonomis.
Dari hasil-hasil teknis tersebut, akan dapat ditentukan dengan sebaik-baiknya hal-hal sebagai berikut:
·         Kedudukan bendungan yang paling baik.
·         Macam-macam bendungan yang paling cocok.
·         Cara atau metode pelaksanaan pembangunan yang paling efekrif.
Berdasarkan data-dat yang benar dan lengkap, disertai dengan analisa-analisa yang cermat, denga mengadakan percobaan-percobaan dan perbandingan-perbandingan secara teliti dari berbagai alternatif berulang-ulang baru dapat diharapkan yang tepat dari ketiga hal-hal pokok tersebut diatas.
Beberapa ketentuan-ketentuan penting yang perlu ditinjau dan dipelajari untuk dapat merealisir pembangunan suatu bendungan adalah:
1.      Topografi
Peninjauan yang hanya didasarkan pada kondisi topografi, ppada sungai dengan alur yang sempit tetapi dalam, maka bendungan beton akan lebih menguntungkan.
Sering pula dijumpai bendungan dibuat dengan konstruksi kombinasi, yaitu macam urugan dikombinasikan dengan beton. Meskipun demikiankemampuan untuk segera dapat menyesuaikan dari bendung urugan jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan bendungan beton, maka kemungkinan terpiliihnya bendungan urugan  akan lebih besar dari pada bendungan beton.
Dengan pemilihan macam bendung urugan yang akan di bangun pada alur yang sempit tetapi dalam, maka harus diperhatikan hal-al dibawah ini:
a.      Diusahakan agar pemilihan bahan untuk tubuh gedung  sedemikian rupa, sehingga potongan melintangnya paling sederhana.
b.      Kemungkinan retaknya pada tubuh bendungan akan terjadi akibat perbedaan angka keteguhan (konsolidasi) yang besar antara bagian tubuh bendungan yang terlatak di atas tebing sungai.
c.       Pada umumnya kebocoran-kebocoran yang paling mudah terjadi adalah didaerah kontak antara timbunan yang kedap air (inti, tirai, dan lain-lain) dan tebing sungai.
d.      Pada keadaan topografi, dimana tebing sungainya terlampau curam, sehingga menyukarkan pembuatan bangunan-bangunanpelengkap untuk bendungan.
e.      Pada kondisi topografi seperti di atas stabilitas bendungan akan meningkat, karena tebimg sungai dapat juga bekerja sebagai penyangga, baik untuk beban vertikal mauupun beban horizontal.
2.      Geologi Teknik
Untuk keperluan penelitian geologi teknik ini, tidak hanya di daerah sekitar tempat kedudukan calon bendungan yang akan dibangun, melainkan harus diadaka pula penelitian di daerah calon waduk dan sekitarnya untuk mengetahui adanya celah-celah yang bisa mengakibatkan kebicoran, atau kemungkinan adanya adanya daerah-daerah yang longsor.
Dengan masuknya longsoran-longsoran tersebut kedalam waduk akan memyebabkan penuhnya waduk terisi endapan dalam waktu yang tidak lama, yang berakibat diikuuti keluarnya air di dalam waduk secara mendadak, sehingga mengakibatkan adanya luapan-luapan yang membahayakan daerah-daerah di sebelah hilir waduk.
Penting pula diperhatikan dalam mengerjakan geologi teknik untuk menyelidiki adanya patahan-patahan, retakan-retakan, bahkan gua-gua di bawah tanah, karena kurang perhatian dalam melaksanakan penelitian hal-hal tersebut di atas, akan mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang timbul disekitar waduk.
3.      Pondasi
Pada dasarnya bendungan urugan di atas hampir semua keadaan topografi dan geologi yang di jumpai, sedanggkan bedngan benduungan beton hanya mungkin dibangun di atas pondasi yang kokoh.
Di atas lapisan dari batu-batu yang lemah, misalnya batuan keras dan lain-lain konstruksi bendungan urugan akan lebih aman di bandingkan dengan konstruksi bendungan beton. Apabila pondasi terdiri dari tanah yang lulus air atau tanah yang daya dukungnya rendah, di perlukan perbaikan tanah dengan sementasi yang umumnya membutuhkan biaya yang besar.
Hasil-hasil survey secara visual saja tidak menggambarkan kondisi geologi yang sebenarnya secara pasti . oleh sebab itu di dalam pembuatan rencana  teknisnya diperlukan angka-angka keamanan yang cukup untuk menghindarkan hal-hal yang tak terduga yang mungkin saja terjadi, baik dalam saat-saat pelaksanaan pembangunan bendungan, maupum pada masa-masa pembangunan waduk.
Apabila dari hasil perhitungan dan analisa menghasilkan angka pembiayaan yang sabgat tinggi untuk keperluan perbaikan pondasinya, maka di anjurkan sebaiknya agar rencana tempat kedudukan bendung maupum dimensi dari bendung perlu ditelaah kembali dengan alternatif yang lain.

4.      Bahan Bendungan
Dasar pemilihan jenis bendungan akan jatuh pada hasil perhitungan pembiayaan yang paling ekonomis, dimana biaya tersebut akan tergantung pada:
a.      Kualitas (mutu) dan kwantitas bahan (persediaan yang cukup banyak), yang terdapat disekitar lokasi calon bendungan akan dibangun.
b.      Jarak pengangkutan dari daerah pengambilan (daerah bahan-bahan didapatkan) ke tempat penimbunan pada calon tubuh bendungan.

Lokasi bahan-bahan yang terdapat di sekitar daerah calon waduk merupakan perhatian utama , sebelum mempertimbangkan adanya bahan-bahan yang terdapat di daerah lain.
Selain perlu di teliti pula kemungkinan cara-cara penggalian (pengambilan) bahan yang paling efisien, dan juga cara pengangkutan yang dapat dikerjakan dengan mudah tempat pengambilan ke tempat-tempat penimbunannya pada calon tubuh bendungan tersebut.
Seperti telah disebutkan di atas bahwa hampir semua batu-batuan, seperti tanah, pasir kerikil dan batu dapat digunakan untuk konstruksi tubuh bendungabn urugan, maka akan banyak pemilihan yang harus dipertimbangkan dan dibandingkan sebelum mendapat alternatif suatu konstruksi tubuh bandungan yang paling ekonomis.
Pada umumnya terjadi kemungkinan perubahan-perubahan volume timbunan tubuh bendungan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka persediaan bahan-bahan sebaiknya diambil dua kali lebih banyak daripada perhitungan volume pada rencana tekniknya.
Dapat mudah dimengerti, apabila pengambilan bahan-bahan berada di tempat yang dekat dengan cslon bendungan, akan lebih memudahkan pekerjaan dan juga lebih menguntungkan.
Adda kalanya bahan-bahan yang diperoleh tidak langsung dipakai, atau pada saat penggalian, pengangkutan, penimbunan, pemadatan, maupun masa eksploitasinya, bahan-bahan tersebut akan berubah karakteristik mekanis dan kimiawi, maka diperlukan adanya usaha-usah oeyesuaian seperlunya, atau pencegahan-pencegahan agar dapat dihindarkan perubahan-perrubahan bahan itu














Sekilas Tentang Pembangunan Bandara

Sekilas Tentang Pembangunan Bandara
Bandara adalah suatu tempat dimana kegiatan-kegiatan didalamnya berhubungan dengan yang namanya transportasi udara. Bandara kebanyakan digunakan untuk tujuan komersial namun ada beberapa bandara yang berfungsi sebagai landasan pesawat militer. Pedoman-pedoman perencanaan bandara secara detail ada pada peraturan-peraturan yang dikeluarkan FAA dan ICAO, di Indonesia sendiri aturan-aturan tersebut tercakup dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 70 tahun 2001 tentang Kebandarudaraan dan Kepmen Perhubungan No. KM 44 Tahun 2002 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional. Bandara memiliki dua area berbeda yaitu sisi darat dan sisi udara. kebutuhan-kebutuhan yang berbeda pada dua bagian tersebut terkadang saling bertentangan antara satu kegiatan dengan kegiatan lainnya. Misalnya kegiatan keamanan membatasi sedikit mungkin hubungan (pintu-pintu) antara sisi darat (land side) dan sisi udara (air side), sedangkan kegiatan pelayanan memerlukan sebanyak mungkin pintu terbuka dari sisi darat ke sisi udara agar pelayanan berjalan lancar. Kegiatan-kegiatan itu saling tergantung satu sama lainnya sehingga suatu kegiatan tunggal dapat membatasi kapasitas dari keseluruhan kegiatan.
Beberapa istilah kebandarudaraan yang perlu diketahui
Airport
Area daratan atau air yang secara regular dipergunakan untuk kegiatan take-off and landing pesawat udara. Diperlengkapi dengan fasilitas untuk pendaratan, parkir pesawat, perbaikan pesawat, bongkar muat penumpang dan barang, dilengkapai dengan fasiltas keamanan dan terminal building untuk mengakomodasi keperluar penumpang dan barang dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi.

Kebandar udaraan
Meliputi segala susuatu yang berkaitan dengan pennyelenggaraan nadar udara (bandara) dan kegiatan lainnya dalang melaksanakan fungsi sebgaia bandara dalam menunjang kelancaran, keamanan dan ketertiban arus lalulintas pesawat udara, penumpang, barang dan pos.

Airfield
Area daratan atau air yang dapat dipergunakan untuk kegiatan take-off and landing pesawat udara. fasilitas untuk pendaratan, parkir pesawat, perbaikan pesawat dan terminal building untuk mengakomodasi keperluar penumpang pesawat.

Aerodrom
Area tertentu baik di darat maupun di air (meliputi bangunan sarana-dan prasarana, instalasi infrastruktur, dan peralatan penunjang) yang dipergunakan baik sebagian maupun keseluruhannya untuk kedatang, keberangkatan penumpang dan barang, pergerakan pesawat terbang. Namun aerodrom belum tentu dipergunakan untuk penerbangan yang terjadwal.

Aerodrom reference point
Letak geografi suatu aerodrom.

Landing area
Bagian dari lapangan terbang yang dipergunakan untuk take off dan landing. Tidak termasuk terminal area.
Landing strip
Bagian yang bebentuk panjang dengan lebar tertentu yang terdiri atas shoulders dan runway untuk tempat tinggal landas dan mendarat pesawat terbang.

Runway (r/w)
Bagian memanjang dari sisi darat aerodrom yang disiapkan untuk tinggal landas dan mendarat pesawat terbang.

Taxiway (t/w)
Bagian sisi darat dari aerodrom yang dipergunakan pesawat untuk berpindah (taxi) dari runway ke apron atau sebaliknya.

Apron
Bagian aerodrom yang dipergunakan oleh pesawat terbang untuk parkir, menunggu, mengisi bahan bakar, mengangkut dan membongkar muat barang dan penumpang. Perkerasannya dibangun berdampingan dengan terminal building.

Holding apron
Bagian dari aerodrom area yang berada didekat ujung landasan yang dipergunakan oleh pilot untuk pengecekan terakhir dari semua instrumen dan mesin pesawat sebelum take off. Dipergunakan juga untuk tempat menunggu sebelum take off.

Holding bay
Area diperuntukkan bagi pesawat untuk melewati pesawat lainnya saat taxi, atu berhenti saat taxi.

Terminal Building
Bagian dari aeroderom difungsikan untuk memenuhi berbagai keperluan penumpang dan barang, mulai dari tempat pelaporan ticket, imigrasi, penjualan ticket, ruang tunggu, cafetaria, penjualan souvenir, informasi, komunikasi, dan sebaginnya.

Turning area
Bagian dari area di ujung landasan pacu yang dipergunaka oleh pesawat untuk berputar sebelum take off.

Over run (o/r)
Bagian dari ujung landasan yang dipergunakan untuk mengakomodasi keperluan pesawat gagal lepas landas. Over run biasanya terbagi 2 (dua) : (i) Stop way : bagian over run yang lebarnya sama dengan run way dengan diberi perkerasan tertentu, dan (ii) Clear way: bagian over run yang diperlebar dari stop way, dan biasanya ditanami rumput.

Fillet
Bagian tambahan dari pavement yang disediakan pada persimpangan runmway atau taxiway untuk menfasilitasi beloknya pesawat terbang agar tidak tergelincir keluar jalur perkerasan yang ada.

Shoulders
Bagian tepi perkerasan baik sisi kiri kanan maupun muka dan belakang runway, taxiway dan apron.

Klasifikasi airport atau bandara Menurut Horonjeff (1994) ditentukan oleh berat pesawat terbang hal ini penting untuk menentukan tebal perkerasan runway, taxiway dan apron, panjang runway lepas landas dan pendaratan pada suatu bandara. Bentang sayap dan panjang badan pesawat mempengaruhi ukuran apron parkir, yang akan mempengaruhi susunan gedung-gedung terminal. Ukuran pesawat juga menentukan lebar runway, taxiway dan jarak antara keduanya, serta mempengaruhi jari-jari putar yang dibutuhkan pada kurva-kurva perkerasan. Kapasitas penumpang mempunyai pengaruh penting dalam menentukan fasilitas-fasilitas di dalam dan yang berdekatan dengan gedung-gedung terminal. Panjang runway mempengaruhi sebagian besar daerah yang dibutuhkan di suatu bandara. Selain berat pesawat, konfigurasi roda pendaratan utama sangat berpengaruh terhadap perancangan tebal lapis keras. Pada umumnya konfigurasi roda pendaratan utama dirancang untuk menyerap gaya-gaya yang ditimbulkan selama melakukan pendaratan (semakin besar gaya yang ditimbulkan semakin kuat roda yang digunakan), dan untuk menahan beban yang lebih kecil dari beban pesawat lepas landas maksimum. Dan selama pendaratan berat pesawat akan berkurang akibat terpakainya bahan bakar yang cukup besar.
1. Runway (Landas pacu)
Runway (Landas pacu) adalah jalur perkerasan yang dipergunakan oleh pesawat terbang untuk mendarat (landing) atau lepas landas (take off). Menurut Horonjeff (1994) sistem runway di suatu bandara terdiri dari perkerasan struktur, bahu landasan (shoulder), bantal hembusan (blast pad), dan daerah aman runway (runway end safety area). Terdapat banyak konfigurasi runway, diantaranya Runway Tunggal (runway ini adalah yang paling sederhana). Runway Sejajar, Runway Dua jalur, Runway Bersilangan, Runway V terbuka.
Description: http://cumulonimbuss.files.wordpress.com/2011/09/runway1.gif?w=300
Description: http://cumulonimbuss.files.wordpress.com/2011/09/runway3.gif?w=300
Description: http://cumulonimbuss.files.wordpress.com/2011/09/runway4.gif?w=300
Description: http://cumulonimbuss.files.wordpress.com/2011/09/runway5.gif?w=300
Untuk menghitung panjang runway akibat pengaruh prestasi pesawat (tergantung dari tipe mesin yang digunakan) dipakai suatu peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Amerika Serikat bekerja sama dengan Industri Pesawat Terbang yang tertuang dalam Federal Aviation Regulation (FAR). Peraturan-peraturan ini menetapkan bobot kotor pesawat terbang pada saat lepas landas dan mendarat dengan menentukan persyaratan prestasi yang harus dipenuhi.
Untuk pesawat terbang bermesin turbin dalam menentukan panjang runway harus mempertimbangkan tiga keadaan umum agar pengoperasian pesawat aman. Ketiga keadaan tersebut adalah:

1) Lepas landas normal
Suatu keadaan dimana seluruh mesin dapat dipakai dan runway yang cukup dibutuhkan untuk menampung variasi-variasi dalam teknik pengangkatan dan karakteristik khusus dari pesawat terbang tersebut.

2) Lepas landas dengan suatu kegagalan mesin
Merupakan keadaan dimana runway yang cukup dibutuhkan untuk memungkinkan pesawat terbang lepas landas walaupun kehilangan daya atau bahkan direm untuk berhenti.

3) Pendaratan
Merupakan suatu keadaan dimana runway yang cukup dibutuhkan untuk memungkinkan variasi normal dari teknik pendaratan, pendaratan yang melebihi jarak yang ditentukan (overshoots), pendekatan yang kurang sempurna (poor aproaches) dan lain-lain.

Panjang runway yang dibutuhkan diambil yang terpanjang dari ketiga analisa di atas.
Peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pesawat terbang bermesin piston secara prinsip mempertahankan kriteria diatas, tetapi kriteria yang pertama tidak digunakan. Peraturan khusus ini ditujukan pada manuver lepas landas normal setiap hari, karena kegagalan mesin pada pesawat terbang yang digerakkan turbin lebih jarang terjadi.

2. Terminal Udara
Terminal udara merupakan penghubunga antara sisi udara dengan sisi darat. Perencanaan terminal disesuaikan dengan Rencana Induk Bandara (Master Plan) menurut tingkat (stage) dan tahapan (phase). Yang pertama meliputi jangka panjang, sedangkan yang kedua berhubungan dengan dengan usaha jangka menengah masalah penyesuaian kapasitas dengan perkiraan perkembangan permintaan. Ciri pokok kegiatan di gedung terminal adalah transisionil dan operasional. Dengan pola (lay-out), perekayasaan (design and Engineering) dan konstruksinya harus memperhatikan expansibility, fleksibility, bahan yang dipakai dan pelaksanaan konstruksi bertahap supaya dapat dicapai penggunaan struktur secara maksimum dan terus menerus. Secara expansibility struktur bangunan harus dapat dirubah, diperluas dan ditambah dengan pembongkaran dan gangguan yang minimum. Jadi bagian dan instalasi penting sedapat mungkin tidak perlu dipindahkan. Secara flexsibility terutama menyangkut rencana tentang kemampuan gedung untuk menerima perubahan bentuk dan penggunaan interior seperti:
Pembagian ruangan yang tidak menanggung beban struktural ,Kemungkinan pemakaian ruangan untuk maksud yang lain dari perencanaan sebelumnya, Memungkinkan pekerjaan perluasan dilakukan dengan gangguan minimum terhadap ruangan / bangunan di sekelilingnya, penggunaan bahan serta metoda konstruksi yang cocok dengan pekerjaan “remodelling”, dan hal-hal lainnya.
Description: http://cumulonimbuss.files.wordpress.com/2011/09/terminaludara.gif?w=300
Gedung terminal mengintegrasikan kegiatan dan permintaan masyarakat, pengusaha penyewa dan pemilik/ pengelola, jadi harus berfungsi langsung secara efisien dengan tingkat keselamatan yang tinggi. Sirkulasi langsung harus dimungkinkan untuk penumpang datang dan berangkat serta bagasinya sampai pada posisi bongkar muat pesawat. Jika penanganan pos dan barang dilakukan dengan kendaraan yang sama dengan untuk bagasi, maka perencanaan meliputi juga sirkulasi di apron

Konsep-konsep operasionil lalu lintas internasional dipisahkan dari arus lalu lintas dalam negeri, karena perlu penanganan khusus. Masing-masing kemudian bisa dikelola berdasarkan:
a). Konsep terpusat (Centralised concept)
Dimana semua kegiatan perusahaan-perusahaan penerbangan dilakukan dalam gedung terminal yang sama. Konsolidasi kegiatan dapat dilakukan dengan dan dengan demikian menghemat ruangan personil dan peralatan yang diperlukan untuk tincketing dan bagage handling. Hal tersebut berlaku juga dalam hal mengelola kegiatan trasnfer di tempat/ pelabuhan udara interchange, karena bisa dilakukan oleh suatu organisasi saja.

b). Konsep pemencaran (unit operation concept)
Dimana setiap perusahaan mempunyai gedung terminal sendiri-sendiri.
1. Investasi untuk pemilik / pengelola pelabuhan udara adalah lebih besar karena duplikasi fasilitas sedqng dari sudut konsesioner (pengusaha penyewa) akan mengurangi keuntungan karena letak usahanya yang terpisah-pisah.
2. pada tempat-tempat interchange maka jarak untuk penumpang transfer menjadi jauh, demikian juga untuk kendaraan angkut di apron untuk bagasi, pos dan barang.
3. konsolidasi kegiatan airline tidak bisa diterapkan misalnya pelayanan penumpang dan bagasi.

Menurut kegiatannya daerah-daerah bangunan dapat dibagi dalam:
Daerah Gedung Terminal
Merupakan pust dari segala kegiatan pengelolaan manusia, barang dan pesawat. Perlu diperhatikan hubungan-hubungan (langsung dan tidak langsung) antara kegiatan-kegiatan di daerah bangunan lainnya. Di termiunal penumpang terjadi transisi penumpangm, bagasi, pos, barang, makanan, bahan bakar antara angkutan darat dan udara.

Daerah Penerbangan Umum dan Lokal (Commercial fixed base operations areas).
Untuk kegiatan jual beli dan sewa pesawat ringan, parkir, perawatan dan perbaikan, charter, penyemprotan, helicopter, pendidikan, dsb. Hubungan dengan kegiatan lain di pelabuhan udara perlu dipertimbangkan dalam perencanaan daerah bangunan lapangan terbang.

Daerah Hangar
Untuk persiapan-persiapan pesawatnya:

- Daereah dekat tempat bongkar muat pesawat untuk peralatan dan bahan ringan pelayanan pesawat
- Daerah dekat parkir apron pesawat untuk perawatan diantara jadwal terbangnya.
Daerah hangar dan sekitarnya untuk perawatan berat pesawat lengkap. Luas daerah ini diperngaruhi oleh sifat dan ruang lingkup perawatan. Yang terakhir ini tergantung dari pola jaringan udaranya dan fasilitas besat diperlukan di tempat penernbangan-penerbangan asal, tujuan dan membalik (originating/ mulai, ending/berakhir dan turn-around points). Kemungkinan perluasan harus diperhitungkan dalam perencanaannya.
Daerah Cargo
Luasnya tergantung dari sistem pengelolaan dan banyaknya muatan yang ditangani supaya bisa berjalan efisien. Bisa menyatu dengan gedung terminal dan bisa mencakup pos, daerah pengelolaan pos dan kiriman barang ringan (paket pos) bisa direncanakan dekat daerah kargo atau dekat / menjadi satu dengan daerah gedung terminal penumpang sesuai intensitas kegiatan pos.

Daerah Parkir Pesawat (Parking Apron)
Untuk perawatan yang perlu waktu di tanah agak lama. Sebaiknya disediakan parking apron terpisah untuk pesawat-pesawat type executive general aviation.

Daerah Khusus
Untuk peralatan yang akan dipakai dalam keadaan darurat yang harus bisa mencapai langsung semua daerah sekeliling lapangan udara. Demikian juga diperlukan daerah khusus untuk peralatan yang akan dipakai untuk perawatan umum pelabuhan udara. Jadi sebaiknnya didekat fasilitas pendaratan seperti landasan dan taxiway dan jalan masuk lapangan udara, tetapi tidak perlu berdekatan dengan gedung terminal penumpang ataupun daerah bongkar muat barang.

(dirangkum dari Teknik Lapangan Terbang teori dasar Dr. Ari Sandhyavitri & Hendra Taufik, ST, MSc)